MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V SD PATEMON 01 TAHUN PELAJARAN 2006/2007 PADA MATERI PECAHAN MELALUI PENDAMPINGAN DENGAN MEMANFAATKAN ALAT PERAGA DAN MEDIA BERBANTUAN KOMPUTER
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejak berlakunya kurikulum pendidikan pada tahun 1994, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan. Pada kurikulum tahun 1994 atau lebih dikenal Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran. Guru berperan memberikan informasi untuk menunjang belajar peserta didik. Pada kurikulum ini, peran guru sangat berpengaruh dan pembelajaran berorientasi pada disiplin ilmu. Artinya pendidikan bertujuan memberikan ilmu secara teori kepada peserta didik. Pada tahun 2004, berlaku Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK ini berlaku pada pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun pendidikan menengah (SMA dan SMK). Pada KBK, pendidikan yang sebelumnya berorientasi pada disiplin ilmu, dikembangkan menjadi pendidikan yang berorientasi kompetensi. Artinya, pendidikan bertujuan agar peserta didik dapat memenuhi kompetensi tertentu pada suatu mata pelajaran. Pendidikan pada KBK ini mempunyai ciri-ciri antara lain:
- berusaha mengembangkan kemampuan pendekatan sistem, tidak hanya transformasi informasi;
- menggunakan sistem Penilaian Acuan Patokan (PAP) bukan Penilaian Acuan Norma (PAN);
- penyajian dilaksanakan dengan menerapkan belajar tuntas;
- memberi tekanan pada penguasaan secara individual.
Kondisi ini berlaku juga untuk kurikulum sekolah dasar, khususnya mata pelajaran matematika. Sesuai dengan perkembangan kurikulum matematika di sekolah dasar, pembelajaran matematika pun harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran matematika tidak sekadar menyampaikan informasi (definisi, rumus, teorema, dan sebagainya), tetapi peserta didik juga terlibat, mengetahui, dan dapat menemukan informasi tersebut. Penilaian pada pembelajaran matematika juga tidak hanya penilaian terhadap hasil akhir belajar tetapi proses yang dilalui peserta didik sampai menemukan hasil akhir tersebut. Oleh karena itu, peran guru tidak sekadar menyampaikan informasi. Mereka diharapkan dapat memfasilitasi belajar para peserta didik.
Matematika mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan, baik bagi pelajar, pegawai kantor, maupun masyarakat umum. Matematika digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Para pelajar dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat, dapat menggunakan kalkulator dan komputer, dengan bantuan matematika. Masyarakat pun dapat menggunakan matematika, misalnya dapat membuat catatan dengan angka-angka, dapat membaca persentase, dapat berdagang dan berbelanja. Sebagian orang kadang berpikir bahwa matematika hanya menyangkut perhitungan yang rumit, perhitungan angka-angka yang membuat kepala pusing. Padahal berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang mereka alami sering menggunakan matematika, meskipun kadang tidak mereka sadari.
Di kelas V SD Patemon 01, pembelajaran matematika selama ini dilakukan dengan komunikasi verbal. Guru menyampaikan materi pelajaran, memberi kesempatan bertanya kepada peserta didik, dan sesekali diberi tugas rumah. Kondisi pembelajaran seperti ini belum sepenuhnya dapat memfasilitasi peserta didik dalam mencapai kompetensi yang diharapkan, juga belum dapat melibatkan mereka dalam proses pembelajaran secara aktif. Sudah sepatutnya guru dapat memfasilitasi belajar peserta didik, misalnya melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan media. Penggunaan media merupakan salah satu alternatif agar peserta didik dapat terlibat aktif dalam pembelajaran. Ketersediaan media pembelajaran sendiri sangat terbatas, baik jenis maupun kuantitasnya. Media yang sudah tersedia berupa alat peraga untuk operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) bilangan bulat, operasi hitung pecahan, bangun datar, dan bangun ruang. Dengan demikian, pemanfaatan media khususnya alat peraga masih terbatas pada beberapa materi dan cenderung dilakukan secara klasikal.
Hasil belajar peserta didik pada materi pecahan masih kurang. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas hanya mencapai 61,7 dan ketuntasan belajar kelas 50%. Materi pecahan termasuk materi yang sulit bagi peserta didik, sehingga diduga hasil belajarnya masih kurang. Sebagai solusi alternatif, dilaksanakan pendampingan dalam pembelajaran matematika dengan memanfaatkan alat peraga melalui penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
B. Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian ini adalah “apakah melalui pendampingan dalam pembelajaran matematika dengan memanfaatkan alat peraga dan media berbantuan komputer, hasil belajar peserta didik dapat ditingkatkan?”